06 Juli 2026
217 views
Nasehat untuk Santri agar Menjaga Waktu Luang di Masa Libur
Anak-anakku, para santri yang dirahmati Allah,
Setiap kali musim libur tiba, hati saya diliputi dua perasaan. Pertama, bahagia karena kalian akan bertemu keluarga di kampung halaman. Kedua, khawatir, karena pengalaman bertahun-tahun mengajarkan bahwa masa libur adalah ujian yang sesungguhnya. Di pesantren, waktu kalian teratur oleh jadwal. Begitu pulang, jadwal itu hilang, dan yang tersisa adalah waktu luang yang luas. Di situlah letak ujiannya: akan kalian isi dengan apa waktu itu?
Nasehat ini saya tulis agar liburan kalian menjadi ladang pahala, bukan ladang penyesalan.
Waktu adalah Kehidupan Itu Sendiri
Dari semua nikmat Allah, ada satu yang paling sering dilalaikan manusia, yaitu waktu. Uang yang hilang bisa dicari lagi, namun waktu yang berlalu tidak akan pernah kembali walau ditukar dengan seluruh isi dunia. Rasulullah ﷺ bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
"Ada dua kenikmatan yang sering dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu kesehatan dan waktu luang." (HR. Al-Bukhari)
Kata "مَغْبُونٌ" dalam hadits ini menggambarkan orang yang tertipu dalam jual beli, menjual barang berharga dengan harga murah tanpa disadari. Begitulah orang yang menyia-nyiakan waktu luangnya, ia sesungguhnya sedang merugi besar tanpa menyadarinya.
Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ bersabda:
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
"Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum tua, sehatmu sebelum sakit, kayamu sebelum fakir, luangmu sebelum sibuk, dan hidupmu sebelum mati."* (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi)
Kalian sekarang berada tepat di titik keemasan ini: muda, sehat, dan memiliki waktu luang. Justru karena itulah waktu ini harus dirampas manfaatnya sebelum direbut kesibukan yang datang kemudian.
Allah bahkan bersumpah dengan waktu dalam Al-Qur'an:
وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣)
"Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran." (QS. Al-'Ashr: 1-3)
Imam Syafi'i pernah berkata bahwa seandainya manusia mau merenungkan surat ini saja, niscaya sudah cukup menjadi petunjuk hidup bagi mereka.
Ada pula ungkapan masyhur :
الْوَقْتُ كَالسَّيْفِ، إِنْ لَمْ تَقْطَعْهُ قَطَعَكَ
"Waktu itu ibarat pedang. Jika tidak engkau manfaatkan, ia akan memotongmu."
Jika waktu kalian isi dengan kegiatan bermanfaat, ia akan membawa kesuksesan. Namun jika dibiarkan berlalu tanpa arah, waktu itu akan menggerogoti masa depan kalian sendiri.
Sahabat Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu pernah berkata:
مَا نَدِمْتُ عَلَى شَيْءٍ نَدَمِي عَلَى يَوْمٍ غَرَبَتْ شَمْسُهُ، نَقَصَ فِيهِ أَجَلِي، وَلَمْ يَزِدْ فِيهِ عَمَلِي
"Tidak ada penyesalanku yang lebih besar daripada penyesalanku atas suatu hari yang telah terbenam mataharinya, sedangkan umurku berkurang karenanya, namun amalku tidak bertambah."
Seorang sahabat besar saja merasakan kegelisahan ini setiap kali satu hari berlalu tanpa penambahan amal. Bagaimana dengan kita?
Kisah-Kisah Inspiratif
Ibnu Aqil Al-Hanbali, ulama besar mazhab Hanbali, pernah berkata bahwa tidak halal baginya menyia-nyiakan satu jam pun dari umurnya. Bahkan ketika lisannya lelah dari belajar dan berdiskusi, pikirannya tetap bekerja saat beristirahat, sehingga setiap kali bangkit dari istirahatnya, telah terlintas sesuatu yang bisa ia tuliskan. Di usia senjanya, semangat belajarnya justru semakin menyala.
Imam Bukhari, penulis kitab hadits paling shahih setelah Al-Qur'an, dikisahkan bisa bangun belasan kali dalam semalam hanya untuk mencatat satu faedah hadits yang terlintas di benaknya, lalu tidur kembali. Kesungguhannya menjaga waktu itu kini menjadi warisan ilmu yang pahalanya terus mengalir lebih dari seribu tahun kemudian.
Ibnul Jauzi menulis ratusan karya dalam berbagai disiplin ilmu, sebuah pencapaian yang mustahil diraih tanpa kedisiplinan menjaga waktu yang sangat ketat.
Saya juga pernah menyaksikan sendiri seorang santri yang setiap libur melepaskan seluruh kebiasaan baik yang ia bangun di pesantren, bermain hingga larut malam dan meninggalkan shalat berjamaah. Ketika kembali, hafalannya tersendat dan semangatnya meredup, butuh berminggu-minggu untuk memulihkannya. Ia berkata kepada saya dengan mata berkaca-kaca, "Saya pikir libur adalah waktu bebas sepenuhnya, ternyata saya justru kehilangan banyak hal." Bandingkan dengan santri lain yang selama libur tetap menjaga shalat, muroja'ah, dan membantu orang tuanya; ia kembali dengan wajah segar dan hafalan yang tetap terjaga.
Bahaya Menyia-nyiakan Waktu
Allah menggambarkan penyesalan orang yang lalai ketika ajal menjemput:
حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (٩٩) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا
"Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, 'Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.' Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja." (QS. Al-Mu'minun: 99-100)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
لَا تَزُولُ قَدَمَا ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ
"Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat, sehingga ia ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan." (HR. At-Tirmidzi)
Pertanyaan pertama di hari perhitungan adalah tentang bagaimana kita menghabiskan waktu hidup kita. Jangan sampai kita menjadi golongan yang baru menyesal ketika semua sudah terlambat.
Nasehat Praktis Mengisi Waktu Libur
1. Jaga Shalat Lima Waktu sebagai Prioritas Utama
Anakku, di mana pun kalian berada, di pesantren atau di rumah, shalat lima waktu adalah tiang agama yang tidak boleh ditinggalkan apalagi ditunda-tunda. Usahakan shalat berjamaah di masjid atau musholla terdekat, sebagaimana kalian terbiasa di pesantren. Jangan biarkan suasana rumah yang lebih longgar membuat kalian kehilangan kedisiplinan yang telah kalian bangun.
2. Rutin Muroja'ah dan Menjaga Hafalan
Bagi kalian yang memiliki hafalan Al-Qur'an atau kitab-kitab tertentu, jangan biarkan liburan menjadi masa "puasa" dari muroja'ah. Sisihkan minimal setengah jam setiap hari untuk mengulang hafalan. Ingatlah sabda Rasulullah ﷺ yang mengumpamakan penghafal Al-Qur'an yang tidak menjaga hafalannya seperti unta yang terikat, jika diikat dengan kuat ia akan tetap, namun jika dilepaskan ia akan lari.
3. Membantu Orang Tua di Rumah
Liburan adalah kesempatan emas untuk berbakti kepada orang tua secara langsung, sesuatu yang tidak bisa kalian lakukan secara maksimal ketika berada di pesantren. Bantu pekerjaan rumah, dengarkan cerita orang tua, dan tunjukkan bahwa pendidikan pesantren telah membentuk kalian menjadi anak yang lebih santun dan bertanggung jawab.
4. Menjadi Teladan dan Berbagi Ilmu di Kampung Halaman
Kalian yang telah mendapatkan ilmu di pesantren memiliki tanggung jawab untuk menyebarkannya, meski dalam skala kecil. Ajarilah anak-anak kecil di kampung mengaji, sampaikanlah hal-hal baik yang telah kalian pelajari kepada teman sebaya kalian, jadilah teladan dalam adab dan akhlak di lingkungan kalian.
5. Membatasi Penggunaan HP dan Media Sosial
Ini adalah salah satu ujian terbesar zaman sekarang. HP bisa menjadi alat yang sangat bermanfaat, namun juga bisa menjadi lubang hitam yang menelan waktu kalian tanpa terasa. Batasi waktu bermain HP, dan gunakan sebagian waktu untuk hal-hal yang benar-benar bermanfaat, seperti membaca, menulis, atau mempelajari keterampilan baru.
6. Menjaga Pergaulan yang Baik
Rasulullah bersabda bahwa perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Berteman dengan penjual minyak wangi, minimal kita akan mendapatkan wanginya. Namun berteman dengan pandai besi, minimal kita akan terkena percikan apinya atau mencium bau tidak sedap darinya. Pilihlah teman bergaul selama liburan dengan bijak, agar waktu yang kalian habiskan bersama mereka membawa manfaat, bukan mudarat.
7. Membuat Jadwal Harian Sederhana
Salah satu sebab utama waktu libur menjadi sia-sia adalah karena tidak adanya perencanaan. Cobalah buat jadwal sederhana setiap hari: kapan waktu untuk ibadah, kapan untuk membantu orang tua, kapan untuk belajar atau membaca, dan kapan untuk beristirahat serta bermain secukupnya. Dengan adanya jadwal, waktu luang yang tadinya terasa membingungkan akan menjadi lebih terarah.
Penutup
Anakku, liburan yang lagi kalian jalani adalah anugerah sekaligus ujian. Ia adalah cermin yang menunjukkan sejauh mana nilai-nilai pesantren benar-benar melekat dalam diri kalian. Ingatlah bahwa waktu yang berlalu tidak akan pernah kembali. Teladanilah kesungguhan Ibnu Aqil, Imam Bukhari, dan Ibnul Jauzi dalam menjaga waktu mereka. Jangan sampai kalian menjadi orang yang menyesal ketika semua sudah terlambat.
Semoga Allah memberkahi liburan kalian dan mengembalikan kalian ke pesantren dengan iman yang lebih kuat, akhlak yang lebih mulia, dan ilmu yang tetap terjaga.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Gubug Ilmu, 6 Juli 2026
Komentar
Tentang Penulis
H. Hendar Ali, Lc., M.Pd.
Saat ini sebagai direktur Pesantren Modern Khalifah, penceramah dan pembimbing haji–umrah. Pernah berdakwah di Malaysia, Hong Kong, dan Makau. Pernah menjabat Ketua IKADI Kab. Sukabumi dan kini aktif sebagai pengurus MUI daerah.