ornamen ornamen ornamen

Pojok Guru

Home // Pojok Guru

RISALAH UNTUK ORANGTUA CALON SANTRI KHALIFAH

06 Juli 2026

80 views

RISALAH UNTUK ORANGTUA CALON SANTRI KHALIFAH
Parenting

RISALAH UNTUK WALI/ORANGTUA CALON SANTRI BARU PESANTREN MODERN KHALIFAH TP 2026/2027

 Ayah, Bunda yang dirahmati Allah,
 
 Sebentar lagi putra-putri Anda akan menginjakkan kaki di pondok, memulai babak baru dalam hidupnya untuk menuntut ilmu dan menghafal atau memperdalam agama Allah. Hari-hari terakhir sebelum mondok ini biasanya menjadi hari yang berat bukan hanya untuk anak, tapi justru sering kali lebih berat untuk orangtua.
 
 Izinkan kami menitipkan beberapa nasehat, sebelum Ayah dan Bunda mengantarkan ananda ke pondok.
 
 1. Niatkan karena Allah, Bukan karena Gengsi atau Ikut-ikutan
 
 Luruskan kembali niat. Mondokkan anak bukan untuk mengikuti tren, bukan karena tetangga juga mondokkan anaknya, tapi karena ingin anak menjadi hamba Allah yang paham agama, berakhlak mulia, dan bermanfaat untuk umat. Ketika niat sudah lurus, ujian seberat apa pun—termasuk rindu yang menyayat—akan terasa lebih ringan karena diniatkan sebagai ibadah.
 
 2. Persiapkan Hati Anak, Bukan Hanya Barang Bawaannya
 
 Koper boleh sudah rapi terisi baju dan perlengkapan. Tapi yang lebih penting adalah hati anak. Ajak bicara dari hati ke hati. Katakan bahwa mondok adalah perjalanan menuntut ilmu yang mulia, bukan hukuman atau pembuangan. Sampaikan bahwa rindu itu wajar, tangis di awal itu manusiawi, tapi itu semua akan berbuah manis pada waktunya.
 
 3. Jangan Menjanjikan "Kalau Nangis, Nanti Dijemput"
 
 Ini nasehat yang sering kami sampaikan, dan sering pula dilanggar karena rasa sayang yang berlebihan. Ucapan "kalau kamu nggak betah, nanti Ayah/Bunda jemput" justru akan menjadi celah bagi anak untuk terus mencoba pulang setiap kali rindu datang. Biarkan anak tahu bahwa mondok punya waktu dan tahapan, dan Ayah Bunda percaya penuh pada proses itu.
 
 4. Titipkan Anak dengan Doa, Bukan dengan Was-was
 
 Ketika berpisah di gerbang pondok, jangan tunjukkan kekhawatiran berlebih di depan anak. Anak sangat peka membaca raut wajah orangtuanya. Jika Ayah Bunda tenang dan yakin, anak pun akan ikut tenang. Titipkan anak kepada Allah dan kepada para asatidz dengan hati yang lapang, iringi dengan doa, bukan air mata kekhawatiran yang membuat anak ragu untuk melangkah.
 
 5. Kuatkan Diri Sendiri Sebelum Menguatkan Anak
 
 Ayah Bunda, rindu itu akan datang menghampiri Anda juga, bukan hanya anak. Maka kuatkan diri sendiri lebih dulu. Sibukkan diri dengan ibadah, perbanyak dzikir, dan yakini bahwa Allah sedang menjaga titipan-Nya. Jangan terlalu sering menelepon di awal-awal masa penyesuaian, karena hal itu justru bisa membuat anak semakin sulit beradaptasi.
 
 6. Percayakan Sepenuhnya kepada Pondok dan Para Pengasuh
 
 Setelah diserahkan, percayakan pendidikan dan pengasuhan anak kepada para asatidz dan pengasuh pondok. Jalin komunikasi yang baik jika diperlukan, tapi hindari sikap terlalu mencampuri proses pendidikan yang sedang berjalan. Berikan ruang bagi anak untuk tumbuh mandiri.
 
 Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim,
 
 Ya Allah, kami titipkan anak-anak kami ini kepada-Mu. Engkaulah sebaik-baik penjaga, dan Engkau Maha Penyayang di antara para penyayang.
 
 Kuatkanlah hati kami, para orangtua, agar mampu melepas anak-anak kami menuntut ilmu di jalan-Mu, tanpa keraguan dan tanpa kekhawatiran yang berlebihan.
 
 Kuatkanlah hati anak-anak kami, mudahkan langkah mereka beradaptasi, lapangkan dada mereka menerima ilmu, dan tumbuhkan dalam hati mereka kecintaan kepada pondok, kepada guru-gurunya, dan kepada Al-Qur'an serta ilmu agama. Amin ya mujibassa’ilin…

 Ayah, Bunda, percayalah—rasa berat di hari-hari pertama ini adalah tanda cinta yang tulus. Namun cinta yang tulus juga berarti memberikan yang terbaik untuk masa depan anak, meski itu berarti harus berpisah untuk sementara waktu. Semoga Allah memudahkan segala urusan kita semua.
 
 Wallahu a'lam bishawab.
Direktur PM. Khalifah

Komentar

Belum ada komentar.

Tentang Penulis

H. Hendar Ali, Lc., M.Pd.

H. Hendar Ali, Lc., M.Pd.

Saat ini sebagai direktur Pesantren Modern Khalifah, penceramah dan pembimbing haji–umrah. Pernah berdakwah di Malaysia, Hong Kong, dan Makau. Pernah menjabat Ketua IKADI Kab. Sukabumi dan kini aktif sebagai pengurus MUI daerah.

Ditulis oleh:

H. Hendar Ali, Lc., M.Pd.

Bagikan: