03 December 2025
77 views
Ketika tanah bergetar lirih,
dan langit menumpahkan dukanya,
kita tersadar—
betapa manusia hanyalah tamu
di rumah besar bernama dunia.
Di Aceh dan Sumatera,
air mengalir membawa kisah pilu,
angin mengirim kabar luka,
dan malam terasa lebih panjang
dari biasanya.
Namun, di balik gemuruh itu,
ada hamba-hamba yang tetap sujud,
ada hati yang tetap berharap,
ada tangan-tangan yang saling menggenggam
agar tidak runtuh sendirian.
Wahai saudara kami di tanah bertasbih itu,
sesungguhnya kalian tidak sendiri.
Duka kalian adalah duka kami,
air mata kalian mengalir
di sungai cinta umat yang peduli.
Dan kami mengangkat tangan,
mengetuk pintu langit
dengan doa yang sederhana
namun penuh percaya:
Ya Allah…
Lembutkanlah takdir-Mu bagi mereka,
jaga langkah-langkah yang tersisa,
peluk hati yang remuk,
ganti kehilangan dengan karunia
yang tak terduga.
Ya Rahman, Ya Rahim…
Turunkan ketenangan
seperti hujan yang menyejukkan,
kuatkan yang tertatih,
sembuhkan yang terluka,
dan jadikan musibah ini
jalan pulang menuju cahaya-Mu.
Wahai Aceh… wahai Sumatera…
bangkitlah,
sebab setiap subuh yang datang
selalu membawa janji baru:
bahwa setelah gelap,
pasti ada terang.
***
Kota Batik Dunia, 3 Desember 2025
Komentar
Belum ada komentar.
Tentang Penulis
H. Hendar Ali, Lc., M.Pd.
Saat ini sebagai direktur Pesantren Modern Khalifah, penceramah dan pembimbing haji–umrah. Pernah berdakwah di Malaysia, Hong Kong, dan Makau. Pernah menjabat Ketua IKADI Kab. Sukabumi dan kini aktif sebagai pengurus MUI daerah.